Catatan Dari Sebuah Ujian Kehidupan

Tulisan berikut menggambarkan sebuah kisah perjalanan hidup yang pernah saya alami. Pengalaman yang sangat berharga, semoga bisa menjadi cermin pelajaran bagi para pembaca yang lain.

Waktu itu saya baru saja menikah, memiliki seorang anak lelaki yang lucu dan menggemaskan. Karir saya pada saat itu cukup baik. Bekerja sebagai pemula di sebuah perusahaan yang dinobatkan sebagai tempat bekerja yang paling didambakan oleh pekerja di seluruh Indonesia. Perlahan namun pasti karir saya menanjak, tugas dan tanggung jawab yang saya emban pun bertambah.

Kehidupan perkawinan jarak jauh (Jakarta – Bandung) saya jalani, dan tampak lancar-lancar saja pada awalnya. Sampai suatu ketika saya dihadapkan pada satu kondisi yang sangat pelik. Musibah terjadi pada pekerjaan saya, dan saya harus kehilangan satu-satunya mata pencaharian saya. Akhir pekan itu saya pulang ke Bandung dengan pikiran berkecamuk, bagaimana menjelaskan kondisi ini kepada istri saya.

Tiba di Bandung, di malam yang sama, kami berdua berbicara panjang, saya jelaskan kondisi yang saya alami di pekerjaan saya. Raut kesedihan dan kekecewaan tidak bisa disembunyikan dari wajah istri saya. Malam itu tidur kami gelisah mengingat seolah masa depan kami telah runtuh. Puji syukur alhamdulillah, di sisi lain, di sela-sela kesibukan kuliah S2 istri saya, dia memiliki kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup keluarga kami.

Saya bertekad tak mau berlama-lama dalam kondisi yang buruk ini. Perlahan-lahan istri saya pun menunjukkan pengertiannya, dan kembali mencoba memberi dorongan positif kepada saya untuk mencoba mencari pekerjaan baru. Saya bangkit berdiri, untuk mulai mencoba peluang-peluang baru yang ada. Saya pernah belajar sebentar menjadi broker forex di sebuah perusahaan investasi, kemudian melamar pekerjaan di beberapa perusahaan yang ada di Bandung, hasilnya belum berhasil ketika itu. Sampai kemudian sebuah tawaran bekerja di sebuah pabrik di Batam datang kepada saya.

Situasi ini cukup dilematis mengingat, disatu sisi saya membutuhkan untuk segera memiliki pekerjaan agar bisa segera kembali berfungsi sebagai tulang punggung keluarga, di sisi lain tawaran pekerjaan ini mengharuskan saya berpisah jarak yang sangat jauh dengan istri dan anak saya. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tawaran ini dan harus rela berpisah dengan istri dan anak saya.

Perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarga  kami pun membaik, saya menyetel gaya hidup sederhana selama saya berada di rantau, dan berusaha mengirim sebagian besar penghasilan saya ke Bandung. Setelah berjalan satu tahun berada di rantau, istri saya kembali mengingatkan kapan saya pindah kembali ke Bandung? Mendapat pertanyaan itu saya kembali merasa gamang dan ragu, mungkinkah saya bisa kembali bekerja di Bandung? Atau setidaknya pindah kerja ke Jakarta yang jaraknya relatif dekat dengan Bandung, tempat keluarga saya berada.

Allah tidak pernah tidur, dan di setiap malam saya selalu berdoa, ya Allah ijinkan saya memetik rizki yang dekat dengan keluarga saya. Sambil terus berusaha bekerja dengan baik, dan mencari informasi peluang di luar sana. Dalam perjalanannya pada saat saya cuti pulang ke Bandung, saya memiliki kesempatan wawancara di beberapa tempat di Jakarta dan Bandung. Saat itu saya tidak pernah tahu apakah usaha saya akan berbuah manis atau tidak, semua sudah saya serahkan kepada Allah SWT sang Maha Pengatur Kehidupan Alam Raya.

Satu tahun empat bulan berlalu, saya mendapat kabar bahwa saya diterima bekerja di sebuah perusahaan retail di Jakarta. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa mendekat kepada keluarga saya. 4 bulan setelah itu, saya kembali mendapat surat bahwa saya diterima bekerja di sebuah perusahaan jasa layanan IT di Bandung. Sujud syukur kepada Allah yang tak pernah tidur mendengar doa hamba-hambanya yang senantiasa memohon.

Akhirnya saya pun kembali ke Bandung, berkumpul dengan istri dan anak lelaki saya. Sejak saat itu kehidupan keluarga kami perlahan-lahan mulai membaik. Problem di rumah tangga yang sebelumnya sering terjadi, perlahan-lahan berubah menjadi saling pengertian dan kasih sayang. Tumbuh kembang anak lelaki saya pun sangat baik, dia menjadi sangat dekat kepada saya, ayahnya. Pada saat itu, saya pun mulai berkesempatan untuk mengantarkan anak saya sekolah sebelum pergi ke tempat kerja. Suatu kegiatan yang sempat tak mampu saya bayangkan sebelumnya. Bahkan disaat lain pun saya bisa mengantar istri dan kemudian menjemputnya untuk pulang bersama-sama. Sungguh merupakan sebuah kenikmatan yang tak ternilai yang telah Allah berikan kepada saya dan keluarga. Kondisi finansial keluarga pun kini jauh lebih baik dibandingkan 3 tahun sebelumnya. Alhamdulillah.

Demikian kisah saya, pesan yang saya ingin sampaikan dari tulisan ini adalah:

1. Keputusan Allah tidak bisa kita hindari, tapi keputusan diri, kita yang menentukan.

2. Dari setiap ujian tersebut Allah meninggalkan hikmah yang dapat kita ambil untuk dipelajari.

3. Jangan pernah melepaskan pegangan dari Allah dan agama, dalam kondisi terburuk sekali pun.

4. Karena sekali lagi, Allah tidak pernah tidur.

5. Setiap doa yang kita lontarkan pada malam-malam hening, akan dicatat oleh-NYA dan kemudian DIA akan atur waktu yang terbaik untuk diwujudkan.

6. Keluarga adalah hal yang utama, selalu berusaha untuk bersama dalam menghadapi setiap ujian yang ada.

7. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, namun Allah adalah Maha Segala, senantiasa dekatkan diri kita kepada-Nya, agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

8. Nikmatnya hidup bagi saya adalah berkumpul dengan keluarga, dan dekat dengan sumber rizki.

Salam (Wijanarko Dwi Utomo)
Kompasiana.com