Daun Alfalfa

Daun Alfalfa dipercaya mampu menjadi obat yang mujarab. Padahal daun yang oleh
warga Persia sebelumnya hanya dijadikan sebagai pakan ternak.

Informasi yang dihimpun, pemanfaatan Alfalfa meluas ke daratan Cina dan Eropa dan
benua Amerika. Bahkan Amerika disebut-sebut negara produsen daun alfalfa terbesar
di dunia. Sementara di Indonesia, budidaya alfalfa terdapat di Jawa Tengah, terutama Boyolali. Tak banyak yang mengetahui rahasia dibalik berkhasiatnya alfalfa.

Dalam siaran pers dari K-Link Indonesia, daun tersebut memiliki kandungan zat hijau daunnya (chlorophyll) yang empat kali lebih tinggi dari sayuran yang biasa di konsumsi. Chlorophyll merupakan molekul pembentuk pigmen hijau pada tumbuhan, alga, dan bakteri. Molekul itu menangkap  cahaya dan melepaskan elektron untuk membentuk gula serta oksigen dalam proses fotosintesis.

Ketika seseorang mengonsumsi sayuran hijau, chlorophyll pun ikut serta. Di dalam
tubuh, chlorophyll dengan mudah masuk ke aliran darah. Sebab, struktur molekul chlorophyll-seperti ditemukan Richard Martin Willsatter, ahli kimia Jerman, pada
1915-sama persis dengan hemoglobin.

Menurut MLM berbasis syariah ini, Alfalfa juga digunakan sebagai bahan obat herbal sejak 1.500 tahun yang lalu. Awalnya, dunia pengobatan tradisional Cina sering menggunakan daun Alfalfa untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan. Kemudian berkembang untuk membantu membersihkan racun dalam darah atau yang disebut detoksifikasi dan pengobatan peradangan sendi.

Di Eropa, alfalfa dikenal sebagai ‘obat rakyat’ yang sangat baik untuk memperlancar kencing. Kepiawaiannya sebagai antibiotik tak hanya di dalam tubuh. Kandungan chlorophyll dalam daun alfalfa digunakan sebagai desinfektan untuk mengobati infeksi luka luar. Dalam The American Journal of Surgery 1940, Benjamin Cruskin M D merekomendasikan chlorophyll untuk mencegah dan menyembuhkan beragam infeksi dan luka.

Popularitas alfalfa dalam dunia pengobatan tradisional mendorong dunia industri untuk mengolahnya menjadi minuman kesehatan. Salah satunya adalah PT. K-Link Indonesia. Perusahaan multilevel marketing ini menjadikan ekstrak alfalfa sebagai salah satu produk andalannya. Produk zat hijau daun alfalfa tersebut dikemas menjadi minuman kesehatan.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan produk herbal dari daun alfalfa adalah
K-Link Indonesia. Perusahaan yang didirikan di Indonesia pada tahun 2002 kini
telah membukukan angka penjualan Rp 1 Trilyun lebih per tahun.

Presiden Direktur PT K-Link Indonesia Dato Dr. H, Md Radzi Saleh cukup puas dengan animo publik yang meminati produk herbal tersebut. Sebab salah satu produk yang menyumbang angka penjualan terbesar adalah Chlorophyll.

“Tingginya tingkat penjualan chlorophyll itu tidak lepas dari banyaknya konsumen
yang merasakan khasiat ekstrak daun alfalfa tersebut,” katanya dalam siaran pers
yang diterima redaksi, Selasa (29/3/2011).

Selain itu, Radzi Saleh menambahkan, trend masayarakat yang banyak beralih dari mengonsumsi produk obat kimia ke produk herbal yang relatif lebih ekonomis.
Radzi Saleh mencontohkan seorang pengguna yang telah mendapatkan manfaat bagi
kesehatan adalah Sujono. Guru sekolah dasar negeri di Sidoarjoi yang kini mengonsumsi chlorophyll secara rutin setelah produk herbal tersebut mampu menstabilkan kadar gula darahnya.

Hal serupa juga terjadi pada Ayuningsih warga Surabaya. Penyakit anemia dan sakit maagnya sembuh setelah mengonsumsi Chlorophyll.Pusing, sesak napas, datang bulan
terasa sakit, tangan berkeringat dingin, sering lemas dan pingsan kini hilang,
padahal sebelumnya ia kerap keluar masuk rumah sakit untuk mengobati penyakitnya itu.

Dengan khasiat yang tokcer itu, kata Radzi Saleh, tak mengherankan apabila selain chlorophyll, produk-produk herbal lainnya seperti K-Omega Squa yang berasal dari ikan Salmon Norwegia atau K-Liquid Organic Spirulina yang berasal dari tumbuhan mikro ganggang yang telah hidup sejak 3,6 milyar tahun yang lalu juga ikut diminati.

dtk.cm

Bagikan :