Dipukuli Hingga Buta Tapi Dipenjara

Bioenergicenter Yogyakarta
Amar Bisa Ajukan Gugatan Perdata Karena Buta yang Diderita

 

BIOENERGICENTER.COM, Jakarta – Amar Abdullah (38), seorang instruktur fitnes yang mengalami kebutaan akibat dihajar seorang warga yang pintu rumahnya ditendang korban, diminta untuk mengajukan tuntutan perdata. Hal ini sebagai gugatan atas mata (properti) yang berkibat pada tidak dapatnya korban mencari nafkah.

Menurut pakar Sosioliogi Hukum Profesor Soetandyo, dalam kasus yang menimpa Amar mata tidak hanya sekedar anggota badan. “Di dalam hukum mata yang juga anggota badan adalah properti,” kata Soetandyo yang pernah mejadi guru besar di Universitas Airlangga, Surabaya, saat berbincang dengan detikcom, Senin (2/1/2012) malam.

Dia menambakan, akibat kerusakan yang berdampak cacat pada mata korban, Amar tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai tulang punggung keluarga.
Instruktur fitnes yang pernah menggondol juara program TV ‘Asal’ mirip Gusti Randa, kini merugi akibat tindak kekerasan yang dilakukan Fenly M Lumbuun, 11 Juli lalu.

“Kalau buta dia tidak bisa bekerja, pendapatannya jadi turun drastis, apalagi dia tulang punggung keluarga, hilang sumber pendapatannya,” kata Soetandyo.

“Kalau yang dipukul sampai buta, korban bisa menuntut secara perdata akibat yang dideritanya. Apalagi orang yang memukul adalah orang berada, dia harus mengkonpensasi kerugian korbannya itu,” imbuhnya.

Bak pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, Amar yang sudah mengalami kebutaan akibat dihantam Fenly, kini harus berurusan dengan penegak hukum. Dia dilaporkan atas pasal perbuatan tidak menyenangkan oleh Fenly.

Kisah pria asal Aceh ini bermula ketika korban melintas di depan rumah Fenly di Jl Kayu Manis VI. Anjing milik Fenly menyalak, membuat Amar terkesiap dan refleks menendang pintu pagar Fenly.

Fenly tak terima dengan sikap Amar lalu memukulnya dengan benda pukul. Dia lalu mengadukan Amar ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Amar yang kemudian buta akibat pukulan itu, juga melapor ke polisi dengan pasal penganiayaan.

Hakim PN Jakarta Timur menjatuhkan hukuman 2,5 tahun kepada Fenly. Sehari sebelum vonis dibacakan, Amar ditahan di Rutan Cipinang, berkaitan dengan laporan Fenly kepadanya.

Menurut Soetandyo dari kacamata sosilogi hukum, polisi sebetulnya memiliki diskreksi untuk tidak meneruskan laporan Fenly. Hal ini menginggat kondisi yang diderita Amar tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Amar terhadap pagar rumah Fenly.

“Untuk perkara kecil polisi bisa tidak meneruskan dengan jalan mendamaikan pihak pelapor dan terlapor, artinya polisi sebagai juru damai,” jelasnya.

Namun, di lain sisi saat polisi tidak meneruskan laporan, dengan kadar perbuatan yang masih terbilang bisa dimaafkan, pelapor akan menggugat kepolisian dan memancing reaksi masyarakat.

“Masyarakat juga harus memiliki respek terhadap pekerjaan polisi. Polisi harus dihormati bukan hanya sebagai penegak hukum tapi berikan juga kewenangan mendamaikan untuk perkara yang tidak semestinya dilanjutkan ke meja hjau,” jelas Soetandyo.

Dihubungi terpisah, pakar kriminolog Universitas Indonesia Profesor Muhammad Mustofa menuturkan, perkara kecil yang berubah menjadi konflik sampai dengan maju ke meja hijau disebabkan karena pola pendidikan yang hanya menanamkan ilmu pengetahuan tanpa disertai norma.

“Akibatnya hal sepele bisa menjadi konflik hukum. Parahnya lagi hukum yang dianut adalah hukum barat dan bukan adat. Artinya hukum tidak mengena kepada substansi hukum itu sendiri,” kata Mustofa.

Sementara itu, Mustofa melanjutkan, pola penyelesaian hukum di Barat sendiri mulai mengadopsi konsepsi budaya di timur. Penyelesaian hukum diserahkan kepada penilaian masyarakat melalui juri persidangan.
(ahy/van)

Sumber

INGIN DAPAT SOLUSI HIDUP? Segera Hub.0817274077(Ibu Eny)/085228108888(Bp Muslim)

Bagikan :