Inilah Pemimpin Tibet Pengganti Dalai Lama

Lelaki lulusan Harvard ini diambil sumpahnya di Dharamsala, disaksikan oleh Dalai Lama.

Bioenergicenter Yogyakarta
Lobsang Sangay (kiri) dan Dalai Lama (kanan) (Tsering Topgyal/AP)

BIOENERGICENTER.COM – Lobsang Sangay resmi ditetapkan sebagai pemimpin pemerintahan Tibet pengasingan usai diambil sumpahnya di India, Senin, 8 Agustus 2011. Dia akan menggantikan peran Dalai Lama yang memutuskan pensiun Maret lalu.

Dilansir dari laman The Guardian, Sangay, 43, dipilih pada pemungutan suara April lalu. Disaksikan langsung oleh Dalai Lama dan ratusan biksu Budha lainnya, Sangay diambil sumpahnya di pusat Tibet pengasingan di Dharamsala, Tibet.

Sangay akan melanjutkan perjuangan Dalai Lama dalam memperjuangkan kebebasan rakyat Tibet dari China. Dalam melakukan hal ini, Sangay mengatakan akan menggunakan cara-cara yang pernah digunakan oleh Dalai Lama.

“Kami akan meneruskan kebijakan pendekatan ‘jalan tengah’. Kami juga siap melakukan negosiasi dengan pemerintah China kapanpun, di manapun,” ujar Sangay. Jalan tengah adalah paham yang dianut Dalai Lama yang tidak menginginkan kemerdekaan dari China tapi menghendaki adanya otonomi penuh.

Sangay mengatakan juga akan bekerja keras mewujudkan visi kemasyarakatan sekuler demokratis yang telah lama diimpikan oleh Dalai Lama. “Kepemimpinan Tibet masih jauh dari memudar. Kami masih ada di sini,” kata Sangay.

Pemerintah China dilaporkan tidak mengakui kepemimpinan Sangay, seperti mereka tidak mengakui kepemimpinan Dalai Lama. Sangai dipilih sebagai Kalon Tripa atau perdana menteri oleh para tetua Tibet pengasingan. Dia dilahirkan di kota Darjeeling, India, dan belum pernah mengunjungi Tibet.

Sangay adalah sarjana hukum lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat. Dia adalah ahli mengenai Tibet dan hukum HAM internasional. Dia juga merupakan analis di Program Studi Asia Timur di Sekolah Hukum Harvard.

Dalai Lama memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pemimpin politik Tibet pada Maret tahun ini. Dia mengatakan mengundurkan diri karena takut akan terjadi kekacauan dan kerusuhan setelah dia meninggal. Kekacauan mungkin terjadi apabila pemerintah China dan para biksu Tibet adu argumen soal siapa penerusnya selanjutnya. (eh)

Sumber

 

Anda ingin Sehat, Lancar rezeki, Meningkatkan Karier, Dimudahkan dalam segala usaha, Lancar Jodoh, Meningkatkan percaya diri & Lebih Dekat dengan Tuhan? Klik DISINI

 


Bagikan :